Latest Entries »

Sepatah Kata

Assalamu’allaikum Warohmatullohi Wabarokatuh …

Lama tidak lagi sempat berbagi di sini, Alhamdulillah saat ini ana dimudahkan untuk bisa kembali membuka blog pribadi ana.

Mudah-mudahan tetap akan dimudahkan oleh Alloh Tabaroka wa Ta’ala untuk tetap Istiqomah dalam berbagi Ilmu Syar’i dengan harapan bisa bermanfaat bagi semua pembaca dan pengunjung blog ini, Jazaakumullohu Khior, Ummu Abizzar As-Salafiyyah.

TENTANG GALLERY ABIZZAR ONLINE SHOP.

buku

Kertas Yang Mulia Berserakan

Di beberapa masjid dan sekolah atau di sebagian rumah penduduk dan tempat lain, sering kami saksikan adanya lembaran dan kertas mulia yang bertuliskan ayat, hadits Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, atau nama-nama Allah dan dzikir.

Nah, bagaimanakah sikap yang benar? Untuk sikap yang benar kita dengarkan tanya-jawab di bawah ini bersama Syaikh Abdul Aziz bin Baaz -rahimahullah-.

Pertanyaan : “Terkadang kami temukan ayat yang tertulis di atas sebuah kertas tercecer di tanah. Terkadang juga kami merasa tak memerlukan kertas yang di dalamnya tertulis “basmalah” atau ayat-ayat lain. Apakah cukup kami robek atau dirobek. Kalau aku robek, maka apakah disana ada dosa bila debunya beterbangan?”

Al-Allamah Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz An-Najdi -rahimahullah- menjawab,

الجواب : الواجب إذا كان هناك آيات في بعض الأوراق ، أو البسملة ، أو غير ذلك مما فيه ذكر الله ، فالواجب أن يحرق أو يدفن في أرض طيبة ، أما إلقاؤه في القمامة فهذا لا يجوز لأن فيه إهانة لأسماء الله وآياته ، ولو مزقت; فقد تبقى كلمة الجلالة أو الرحمن أو غيرها من أسماء الله في بعض القطع ، وقد تبقى بعض الآيات في بعض القطع. والمقصود أن الواجب إما أن يحرق تحريقا كاملا وإما أن يدفن في أرض طيبة ، مثل المصحف الذي تمزق وقل الانتفاع به; يدفن في أرض طيبة ، أو يحرق ، أما إلقاؤه في القمامات ، أو في أسواق الناس أو في الأحواش فلا يجوز. ولا يضر تطاير الرماد إذا أحرق.

“Kewajiban kita, jika disana ada ayat-ayat yang terdapat pada sebagian kertas ataukah ada bacaan “basmalah”nya atau selainnya di antara perkara yang di dalamnya terdapat dzikrullah. Jadi, kewajiban kita adalah merobeknya dan menanamnya di dalam tanah yang baik (bersih). Adapun membuangnya dalam tong sampah, maka ini tidak boleh!! Karena, di dalamnya terdapat perendahan terhadap nama-nama dan ayat-ayat Allah. Andai anda merobeknya saja, maka tetaplah kalimat jalalah (الله) atau ar-rahman dan selainnya diantara nama-nama Allah pada sebagian potongan-potongan kertas itu. Terkadang juga sebagian ayat tetap ada pada sebagian potongan itu. Tujuannya bahwa kewajiban kita, entah kertas itu dirobek keluruhannya atau ditanam dalam tanah yang baik, seperti mush-haf yang telah robek dan sudah kurang pengambilan manfaatnya; ini ditanam saja dalam tanah yang baik atau dibakar. Adapun membuangnya di tong sampah atau di pasar manusia atau di tempat terbuka, maka ini tak boleh. Terbangnya debu tidaklah membahayakan (yakni, tak masalah), jika telah dibakar”. [Lihat Fataawa Nur ala Ad-Darb (1/390-391/no. 181)]

http://www.darussalaf.or.id

Dakwah Salafiyyah Dakwah Haq

Oleh : Ustadz Alfian

Dakwah Salafiyyah adalah dakwah yang mengajak untuk berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagaimana yang diimani, dipahami, dan diterapkan oleh para Salafush Shalih. Para juru dakwah/da’i Dakwah Salafiyyah mengambil ilmu dari para ‘ulama Dakwah Salafiyyah pada setiap zaman. Mereka berguru kepada para ‘ulama rabbani Setiap dakwah yang tidak tegak di atas prinsip ini maka itu adalah dakwah yang menyimpang dari jalan yang benar dan lurus.

Apa itu as-Salafiyyah?
Sebagian pihak memaknakan salafiyyah adalah nisbah kepada salaf yang maknanya adalah terdahulu. Yang berarti nisbah kepada zaman yang terdahulu, atau tempo dulu, atau tradisional. Sehingga sering dijumpai pesantren salafiyyah artinya pesantren yang masih menerapkan cara pengajaran tradisional. Lawannya adalah pesantren modern. Ini adalah pengertian salafiyyah yang salah kaprah.

Apa makna yang benar?

Berikut kita tinjau bagaimana penjelasan para ‘ulama dalam hal ini. Dalam kamus “Lisanul ‘Arab” dijelaskan sebagai berikut :
“Salaf adalah orang-orang yang mendahuluimu, baik ayah dan kakek-kakekmu ataupun karib kerabat yang mereka itu di atasmu dalam umur dan keutamaan.” (lihat Lisanul ‘Arab karya Ibnu Manzhur IX/158)
Dalam salah satu hadits, Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda kepada Fathimah Az-Zahra putri beliau:

“Sesungguhnya sebaik-baik salaf (pendahulu) adalah aku untukmu.” (HR. Muslim).
Itulah makna kata Salaf secara pengertian bahasa (etimologi). Adapun secara terminology (istilah), makna Salaf adalah sebagaimana diterangkan oleh para ‘ulama berikut :
Para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, tabi’in (murid-murid shahabat) dan tabi’ut tabi’in (murid-murid tabi’in). (Lihat Manhaj Al-Imam Asy-Syafi’i fii Itsbatil ‘Aqidah, karya Asy-Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil, I/55).

Al-Qalsyani berkata:

“as-Salafush Shalih adalah generasi pertama (umat ini) yang mendalam keilmuannya, berpegang kepada hidayah (bimbingan) Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, menjaga sunnah beliau, yang Allah pilih mereka untuk menjadi shahabat nabi-Nya, Allah pilih mereka untuk menjadi para penegak agama-Nya, Allah ridha mereka sebagai para imam bagi umat ini. Mereka telah berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad, mencurahkan segala upaya untuk memperbaiki dan memberikan kebaikan untuk umat, bahkan mereka siap mempertaruhkan jiwa mereka demi meraih ridho-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

{وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْه}

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah (At Taubah:100)

Al-Bajuri berkata :

“Salaf adalah generasi yang hidup pada masa tiga abad yang utama, yaitu para shahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in.” Merekalah yang disebut sebagai as-Salafush Shalih
Adapun As-Salafy adalah nisbah kepada para ‘ulama dari kalangan as-Salafush Shalih tersebut.
As-Sam’ani (w. 562) dalam kitabnya Al-Ansab (III/273) mengatakan:

“As-Salafy adalah nisbah kepada generasi Salaf, dan berkeyakinan dengan metodologi mereka.”

Adz-Dzahabi juga mengatakan:

“As-Salafy adalah seorang yang berjalan di atas metodologi Salaf.”

Maka Dakwah As-Salafiyyah merupakan dakwah yang mengajak untuk berpegang kepada manhaj salaf. Yang tidak lain adalah dakwah yang mengajak untuk kembali kepada kemurnian Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagaimana diyakini dan diamalkan oleh para ‘ulama dari kalangan as-Salafush Shalih. Dakwah As-Salafiyyah tidak lain merupakan dakwah yang mengajak kepada apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dalam sabdanya :

مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ

Apa yang aku dan para shahabatku ada di atasnya. )

Sehingga Salafy tidak lain adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Karena makna Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang berpegang teguh terhadap Al-Quran dan As-Sunnah dan bersatu di atasnya dengan menjadikan para as-Salafush Shalih sebagai rujukan utama dalam memahami dan menerapkan Al-Qur’an dan As-Sunnah tersebut. Kata Salaf atau Salafy bukankah kata yang muncul baru-baru ini saja, sebagaimana dipahami atau dikesankan oleh sebagian pihak. Kata ini sangat akrab dalam kitab-kitab para ‘ulama.
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah (w. 256 H) – penulis kitab Shahih Al-Bukhari yang disepakati sebagai salah satu kitab rujukan utama oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah – menyebutkan dalam kitab Shahih-nya tersebut :

باب الركوب على الدابة الصعبة والفحولة من الخيل وقال راشد بن سعد كان السلف يستحبون الفحولة لأنها أجرى وأجسر

Bab tentang Mengendarai Hewan Yang Kuat dan Kuda Jantan. Rasyid bin Sa’d berkata, “Dahulu para Salaf menyukai kuda jantan yang ia lebih tangkas dan lebih cepat. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullah – salah seorang ‘ulama besar dari kalangan Syafi’iyyah – menjelaskan makna Salaf pada perkataan Rasyid bin Sa’d di atas, “yaitu dari kalangan para shahabat dan para ‘ulama setelahnya.”
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah juga berkata :

باب ما كان السلف يدخرون في بيوتهم وأسفارهم من الطعام واللحم وغيره

Bab Bahwa Salaf dulu menyimpan makanan, daging, dan lainnya dalam rumah-rumah mereka atau dalam safarnya.
Al-Imam ‘Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah (w. 181 H) – salah seorang ‘ulama besar dari kalangan tabi’it tabi’in – juga pernah berkata di hadapan khalayak ramai, “Tinggalkanlah hadits ‘Amr bin Tsabit karena sesungguhnya dia telah mencela salaf.” (lihat Muqaddimah Shahih Muslim)
Kata Salafy juga akrab dan banyak disandang oleh para ‘ulama besar dari kalangan ahlus sunnah wal jama’ah. Di antaranya apabila kita buka kitab Siyar A’lamin Nubala’ atau lainnya, kita dapati :
- Adz-Dzahabi mengatakan dalam biografi Ya’qub Al-Fasawi :”Tidaklah aku ketahui Ya’qub Al-Fasawi kecuali dia itu seorang salafi.” (Siyar A’lamin Nubala’ XIII/183).
- Dalam biografi Muhammad bin Muhammad Al-Bahrani:”Dia adalah seorang yang kuat beragama, baik, dan seorang salafi.” (Mu’jam Asy-Syuyukh II/280).
- dalam biografi Ahmad bin Ahmad bin Na’mah Al-Maqdisi : “Dia berjalan di atas aqidah salaf.” (Mu’jam Asy-Syuyukh I/34).
- dalam biografi Ibnush Shalah, :”Beliau adalah seorang salafi, baik aqidahnya, tidak terjatuh dalam ta’wilnya para ahli kalam.” (Tadzkiratul Huffazh IV/1431)
- Dalam biografi ‘Utsman bin Kharzad Ath-Thabari :”yang diperlukan oleh seorang “Al-Hafizh” adalah hendaknya ia menjadi seorang yang bertaqwa, cerdas, ahli nahwu, ahli  bahasa, bersih jiwanya, pemalu, dan salafi.” (Siyar A’lamin Nubala’ XIII/380).
- Dalam biografi Az-Zubaidi :”Dia seorang yang hanif (bertauhid), dan seorang salafi.” (Siyar A’lamin Nubala’ XX/317).
- Dalam biografi Ibnu Hubairah, :”Dia seorang yang sangat mengerti madzhab, bahasa ‘arabi, ilmu syair, dan seorang salafi, atsari (pengikut atsar/hadits).” (Siyar A’lamin Nubala’ XX/426).
- Dalam biografi Ibnu Al-Majd :”Dia seorang yang tsiqah (terpercaya), tsabt (kuat hafalannya), cerdas, salafi, dan bertaqwa.” (Siyar A’lamin Nubala’ XXIII/118).
- Dalam biografi Yahya bin Ishaq, “Dia adalah seorang yang sangat mengerti berbagai madzhab, orang yang baik, tawadhu’, salafi, …. .” (Mu’jam Asy-Syuyukh no. 957).

Sehingga penggunaan kata salaf atau salafi sebenarnya sudah banyak dipakai dan disebutkan oleh para ‘ulama besar ahlus sunnah dalam kitab-kitab induk ahlus sunnah, dan banyak disandang oleh para ‘ulama ahlus sunnah. Sehingga sebenarnya tidak ada masalah dengan kata “salaf” atau “salafi”; karena kata tersebut sebenarnya merupakan padanan dari kata “ahlus sunnah wal jama’ah”. Maka sangat disayangkan, muncul di negeri ini kelompok atau pihak yang mengklaim diri sebagai “ahlus sunnah” yang paling sah justru mempersoalkan kata tersebut, atau menjelek-jelekkannya.

Para pembaca yang budiman, ….

Dari penjelasan di atas, jelaslah Salafy atau Ahlus Sunnah tidak lain dan tidak bukan terdiri dari para ‘ulama besar, yang mereka berjalan di atas manhaj salaf, atau manhaj ahlus sunnah wal jama’ah, yakni manhaj yang Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan para shahabatnya berjalan di atasnya. Mereka adalah ath-thaifah al-manshurah yang diberitakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam dalam sabdanya :

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلىَ الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتىَّ يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ

Senantiasa ada dari umatku sekelompok orang (thaifah) yang selalu tampak di atas Al Haq, tidak akan menyusahkan mereka orang-orang yang meninggalkan (tidak mau menolong) mereka sampai datang keputusan Allah (hari kiamat). [HR. Al Bukhari – Muslim]

Musa bin Harun rahimahullah : Aku telah mendengar Ahmad bin Hanbal rahimahullah ketika ditanya tentang hadits yang berlafazh (artinya) :

‘umat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan semuanya di neraka kecuali hanya satu golongan…’

beliau mengatakan : “Jika yang dimaksud bukanlah ahlul hadits maka aku tidak tahu siapa mereka.”

Dalam riwayat lain dengan lafazh :“Jika Ath-Thaifah Al-Manshurah ini bukan Ash-habul Hadits, maka aku tidak tahu lagi siapa mereka.” )

Dalam riwayat lain : “Mereka adalah ahlul ‘ilmi dan ahlul atsar.” )

Berkata Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah:“Menurutku mereka adalah para ‘ulama Ahlul Hadits.” )

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Kitab Al-I’tisham bil Kitab was Sunnah dalam Shahih-nya berkata : Bab : Sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam :

“Senantiasa ada kelompok dari umatku yang menampakkan kebenaran dan mereka berperang”

Al-Bukhari berkata : “Dan mereka adalah para ‘ulama.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari menerangkan pernyataan Al-Bukhari [Mereka adalah para ‘ulama] : “Ini adalah penegasan Al-Imam Al-Bukhari, dan telah diriwayatkan oleh At-Tirmidzi hadits tentang masalah ini. Kata beliau : “Aku mendengar Muhammad bin Isma’il – yakni Al-Bukhari – berkata : Aku mendengar Ali bin Al-Madini berkata : “Mereka adalah ash-habul hadits.”
Ketahuilah bahwa para ‘ulama sepakat menyatakan bahwa Ath-Thaifah al Manshurah itu adalah Al-Firqatun Najiyah yang keduanya itu adalah ahlul hadits. Di antara para ‘ulama yang menyatakan itu antara lain :
1. ‘Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah wafat th. 181 H.
2. ‘Ali bin Al Madini rahimahullah wafat th. 234 H
3. Ahmad bin Hanbal rahimahullah wafat th. 241 H
4. Ahmad bin Sinan rahimahullah wafat th. 256 H
5. Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari rahimahullah wafat th. 256 H
6. ‘Abdullah bin Muslim bin Qutaibah rahimahullah wafat th. 267 H
7. Muhammad bin ‘Isa At-Tirmidzi rahimahullah wafat th. 276 H
8. Muhammad bin Hibban rahimahullah wafat th. 354 H
9. Muhammad bin Al Husain Al-Ajurri rahimahullah wafat th. 390 H
10. Muhammad bin Abdullah Al-Hakim An-Naisaburi rahimahullah wafat th. 405 H
11. Ahmad bin Ali bin Tsabit Al-Khathib Al-Baghdadi rahimahullah wafat th. 463 H
12. Al Husain bin Mas’ud Al-Baghawi rahimahullah wafat, th. 516 H
13. ‘Abdurrahman bin Al-Jauzy rahimahullah wafat th. 597 H
14. Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi rahimahullah wafat th. 676 H
15. Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyyah Syaikhul Islam rahimahullah wafat th. 728 H
16. Ishaq bin Ibrahim Asy-Syathibi rahimahullah wafat th. 790 H
17. Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah wafat th. 852 H

Perhatikan penegasan Al-Imam Ahmad rahimahullah, “Jika mereka Ath-Thaifah Al-Manshurah itu bukan ahlul hadits, maka aku tidak tahu lagi siapa mereka.”

Al-Qadhi ‘Iyadh menjelaskan, “Maksud Al-Imam Ahmad adalah bahwa Ath-Thaifah Al-Manshurah adalah Ahlus Sunnah dan orang-orang yang meyakini madzhab Ahlul Hadits.” (Fathul Bari I/164)

 

Jadi Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah Al-Firqatun Najiyah, mereka adalah Ath-Thaifah Al-Manshurah, mereka adalah Ahlul Hadits, mereka adalah Salafy.

 

 

http://www.salafy.or.id

 

 

Arti Salaf menurut bahasa dan Istilah

Arti Salaf Menurut Bahasa

Salafa Yaslufu Salfan artinya madla (telah berlalu). Dari arti tersebut kita dapati kalimat Al Qoum As Sallaafyaitu orang – orang yang terdahulu. Salafur Rajuli artinya bapak moyangnya. Bentuk jamaknya Aslaaf danSullaaf.

Dari sini pula kalimat As Sulfah artinya makanan yang didahulukan oleh seorang sebelum ghadza’ (makan siang). As salaf juga, yang mendahuimu dari kalangan bapak moyangmu serta kerabatmu yang usia dan kedudukannya di atas kamu. Bentuk tunggalnya adalah Saalif. Firman allah Ta’ala

فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفًا وَمَثَلًا لِّلْآخِرِينَ

“dan kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian” (Az Zukhruf :56)

Artinya, kami jadikan mereka sebagai orang – orang yang terdahulu agar orang – orang yang datang belakangan mengambil pelajaran dengan (keadaan) mereka. Sedangkan arti Ummamus Saalifah adalah ummat yang telah berlalu. Berdasarkan hal ini, maka kata salaf menunjukan kepada sesuatu yang mendahului kamu, sedangkan kamu juga berada di atas jalan yang di dahuluinya dalam keadaan jejaknya.

Pengertian Salaf Menurut Istilah

Allah telah menyediakan bagi ummat ini satu rujukan utama di mana mereka kembali dan menjadikan pedoman. Firman allah Ta’la :

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ

“sesungguhnya telah ada pada (diri) Rassullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) allah dan (kedatangan) hari kiamat”. (Al Ahzab: 21)

Allah juga menerangkan bahwa ummat ini mempunyai generasi pendahulu yang telah lebih dahulu sampai kepada hidayah dan bimbingan. Allah berfirman :

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“orang – orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar mengikuti mereka dengan baik allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada allah “ (At Taubah 100)

Allah juga menegaskan bahwa ketiadaan sikap ittiba’ (meneladanii) para As Sabiqun (pendahulu) yang mendapat bimbingan adalah bentuk penentangan dan perpecahan. Fiman allah Subhanahuwata’ala :

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barang siapa yang menentan Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang – orang mu’min. kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukan ia kedalam jahannam dan jahannaman itu seburuk – buruknya tempat kembali” (An Nisa’ 115)

Sehingga mereka yang memperhatikan ayat – ayat ini, akan melihat dengan mata hatinya dan petunjuk yang ada padanya bahwa ummat ini memang memiliki genarsi pendahulu (salaf) yang terdepan dalam kebaikan dan hidayah. Adapun para tabi’ (yang mengikuti) tidak berhak mendapat keselamatan dan kebaikan kecuali dengan berjalan di atas jalan orang – orang yang  telah mendahuluinya dan mengamalkan apa yang telah di amalkan oleh generasi terdahulu.

Syaikhul Islam Ibnu Tamiyah menjelaskan pengertian ini, dengan mengatakan :

“sehingga tidak ada keberuntungan kecuali dengan ittiba’ Rosulullah. Kerena sesungguhnya Allah telah mengkhususkan keberuntungan itu hanya para pengikut beliau  yang beriman da anshar (pemebela).” Allah Ta’ala berfirman ;

فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Maka orang – orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-prang yang beruntung “(Al Araf 157)

Artinya tidak ada yang beruntung kecuali mereka.

Allah Subhanahuwata’ala telah pula menerangkan bahwa keberuntungan itu hanya milik orang – orang yang mengikuti cahaya yang diturunkan-Nya kepada nabi-Nya. Syaikhul Islam Ibnu Tamiyah menjelaskan pengertian ini dengan tuntas, bahwasannya keselamatan dan keberuntungan itu hanya dengan ittiba’ terhadap para generasi terdahulu yang pertama – tama masuk Islam, kata beliau :

“Bahwasannya Shiratul mustaqim (jalan yang lurus) itu adalah jalan orang – orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka, dari kalangan para nabi, Shiddiqin ( yang banyak membenarkan), Syuhada (yang gugur berjihad di jalan allah) dan orang – orang yang shaleh (yang menunaikan hak allah dan sesama).”

Beliau menggambarkan secara jelas pengertian kata salafy  dan apa yang di maukan dengan kata ini menurut istilah. Di mana yang dimaksud dengan kalimat ini adalah para sahabat dan orang yang mengikuti mereka dengan baik. Sehingga orang – orang yang menjadikan para sahabat sebagai pendahulunya dalam ittiba’ dan pemahaman maka dia adalah seorang salafy ( yang berakidah dan pemahaman salafy)

Berkaitan dengan hal ini Syaikh Islam Ibnu Taimiyah menerangkan :

“adapun salaf seperti para sahabat dan orang – orang yang mengikuti mereka dengan baik,  tidak dikenal dari mereka adanya pertentangan dalam prinsip pokok dalam agama ini. Bahkan atsar (berita) tentang masalah ini, kita dapatkan secara mutawatir dari mereka.”

Maka kalimat salat disebutkan secara mutlak kepada sahabat nabi dan orang – orang yang mengikuti mereka dengan baik, semoga allah meridhai mereka semua. Dan orang – orang yang mengikuti mereka di atas agama yang haq ini, maka dia adalah penerus kebaikan para generasi salafy tersebut.

 

(di kutip dari buku Manhaj Dakwah Salafiyah, Pustaka Al Haura)

http://www.salafy.or.id

 

Nama yang dinisbahkan secaran mutlak kepada salaf

 

Setelah kita memahami pengertian salafy menurut termonologi atau istilah, mau tidak mau kita mesti mengisyaratkan bahwa siapa saja yang berjalan di atas manhaj yang telah dilalui oleh orang – orang yang terdahulu, mula – mula masuk islam dapat diberikan kepadannya beberapa sifat dan kriteria.  Nabi pernah mensifatkan mereka sebagai orang  – orang yang terasing, beliau bersabda :

“agama islam ini datang pertama kali dalam keadaan asing. Dan dia akan datang kembali asing. Sebagaimana pertama kalianya. Maka beruntunglah orang – orang yang asing”

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah mengatakan :

“secara spontan sudah dikatahui oleh mereka yang memikirkan (tadabbur) Al Quran dan As sunnah serta hal – hal yang disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah..”

Imam Asy Syathibi ketika menerangkan sifat –sifat mereka sebagai Ahli Bid’ah. Misal : “Si fulan diatas sunnah, yakni dia beramal diatas prinsip yang sesuai dengan apa yang dijalani oleh nabi dikatakan pula , “ Si fulan di atas bid’ah. Artinya ketika dia beramal di atas prinsip yang berlawan dengan itu (yakni dengan sunnah).

Mereka juga dijuluki sebagai ahlul atsar, ahlul haq, dan ahlul hadist. Imam Ahmad berkata tentang hal: “ini adalah madzhab ilmu dan ashhabul atsar dan ahlus sunnah yang (mereka itu) perpengang teguh dengannya dan di kenal melalui prinsip ini. Mereka adalah orang  – orang yang di jadikan teladan dalam masalah ini di samping para sahabat Nabi’

Mereka (Ahlus Sunnah) memperoleh julukan ini karena mereka senantiasa membela As Sunnah dan mengajak manusia kepadanya tentang hal ini, Syaikh As Sa’di menerangkan “

“demikianlah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan ahlul hadist mereka adalah para pembela agama Allah, Kitab –kitabnya dan Sunnah Rasul-Nya”

Dan julukan itu (Ahlus Sunnah) akan terwujud bagi siapa yang menerapkan sebagaimana yang di jelaskan oleh ibnu Rajab sebagai berikut :

“As Sunnah adalah jalan yang ditempuh meliputi sikap tamassuk (berpegang teguh) dengan apa yang diyakini oleh nabi, para khulafaur Rasyidin, baik dalam hal I’tikad, ucapan maupun perbuatan. Inilah As Sunnah yang sempurna. Oleh karena itulah generasi salaf terdahulu, tidak menyebutkan kata As Sunnah secara mutlak kecuali terhadap hal – hal yang mencakup semua ini”

Siapapun yang memperhatikan pernyataan seperti ini yang bersumber dari para imam ini, niscaya akan menemukan bahwa As Sunnah dan para penganutnya adalah orang – orang yang menyandang berbagai sifat atau karakterristik yang agung, yang pada hakekatnya adalah satu. Dan jelas pula dari ucapan mereka bahwasannya sifat itu tidak menjadi sifat yang hakiki sampai seorang muslim betul betul jujur dan benar ketika berjalan diatasnya, baik dalam penerapannya, maupun tingkah lakunya, bukan hanya sekadar pengakuan semata.

Ibnu Hazm mengatakan :

“Dan Ahlus Sunnah yang kami terangkan adalah ahlul haq, adapun yang selain mereka adalah ahli bid’ah. Karena sesungguhnya mereka (Ahlus Sunnah) itu adalah para sahabat dan semua yang menempuh jalan yang di lalui oleh mereka dari kalangan tabi’in yang terbaik, kemudian Ashhabul Hadist, serta orang – orang yang mengikuti mereka dari kalangan ahli fiqih, generasi demi generasi sampai zaman kita ini. Begitu juga orang – orang yang meneladani mereka”

Jadi semua sifat yang tersebut sebagaimana ditegaskan oleh ahli ilmu, hakekatnya adalah satu. Adapun perpecahan yang terjadi diantara mereka sebagian kelompok (jama’ah) yang menjelaskan dirinya kepada dakwah (Salafiyah), maka sesungguhnya semuanya kembali kepada apa yang tampak pada jama’ah itu baik dalam perbedaan I’tikad (keyakinan,prisnsip) yang justru mengakibatkan terjadinya perpecahan dan perselisihan itu.

Maka wajib senantiasa iltizam (berpegang) dengan manhaj yang dianut oleh generasi pendahulu ummat ini, serta menjahui berbagai kelompok yang berpecah – belah dalam urusan agama ini, melarang atau mencegah kaum muslimin agar tidak mengikutinya serta mengingatkan mereka supaya berhati – hati terhadap kepalsuan pemikiran  – pemikiran (yang menyimpang) tersebut.

 

 

(di kutip dari buku Manhaj Dakwah Salafiyah, Pustaka Al Haura’)

http://www.salafy.or.id

 

 

Iringi Keburukan Dengan Kebaikan

Oleh Ustadz Abu Utsman Kharisman

(Syarh Hadits Ke-18 Arbain anNawawiyyah)

عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.[رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]

Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdurrahman, Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik”. 
[HR. Tirmidzi, ia telah berkata: Hadits ini hasan, pada lafazh lain derajatnya hasan shahih]

Sedikit Penjelasan tentang Sahabat yang Meriwayatkan Hadits

Abu Dzar al-Ghiffary berasal dari Ghiffaar (jalur yang dilewati penduduk Makkah jika akan berdagang ke Syam) , nama aslinya Jundub bin Junaadah adalah orang ke-5 yang masuk Islam saat Nabi masih berada di Makkah dan berdakwah secara sembunyi. Beliaulah orang pertama yang mengucapkan salam secara Islam kepada Nabi. Selama masa mencari Nabi di Makkah beliau tinggal di dekat Ka’bah selama 15 hari tidak makan dan minum apapun kecuali air zam-zam hingga menjadi gemuk. Setelah bertemu Nabi dan masuk Islam beliau kembali pada kaumnya, mengajarkan Islam kepada mereka, dan tinggal di sana. Setelah perang Uhud, barulah Abu Dzar bisa menyusul Nabi hijrah ke Madinah.

Sedangkan Muadz bin Jabal adalah Sahabat Nabi yang paling mengetahui tentang halal dan haram (H.R Ibnu Hibban). Nabi juga memerintahkan untuk mengambil (ilmu) al-Quran dari 4 orang, yaitu : Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal dan Salim maula Abi Hudzaifah(H.R al-Bukhari). Muadz bin Jabal juga diutus Nabi ke Yaman untuk berdakwah di sana.

PENJELASAN UMUM MAKNA HADITS

Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam memberikan bimbingan dalam 3 hal:

  1. Bertakwa kepada Allah di manapun kita berada. Di waktu sendirian maupun di tengah keramaian. Di setiap waktu dan tempat.
  2. Jika suatu ketika kita melakukan dosa, susulkanlah / iringi dengan banyak perbuatan ibadah dan kebaikan, agar bisa menghapus dosa itu.
  3. Bergaullah sesama manusia dengan akhlak yang baik

Definisi Taqwa

Thalq bin Habiib(seorang Tabi’i, salah satu murid Sahabat Nabi Ibnu Abbas) menjelaskan definisi taqwa: “Amalan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dengan mengharap pahala Allah dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dengan perasaan takut dari adzab Allah”.

Banyak para Ulama’ yang memuji definisi ini di antaranya al-Imam adz-Dzahaby, kemudian beliau mensyarah (menjelaskan) maksud dari definisi tersebut dalam Siyaar A’laamin Nubalaa’ (4/601)

Beberapa poin penting dari definisi taqwa menurut Thalq bin Habiib tersebut:

  1. Taqwa adalah amalan ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan kepada Allah.

Taqwa harus berupa amal perbuatan, tidak cukup hanya dalam hati atau ucapan saja.

  1. Taqwa harus didasarkan cahaya dari Allah, yaitu ilmu syar’i dan ittiba’ (mengikuti Sunnah Nabi).

Tidak mungkin seseorang bisa bertakwa kepada Allah tanpa ilmu. Dengan ilmu ia akan tahu mana hal-hal yang diperintah Allah (wajib atau sunnah), yang dilarang Allah (haram atau makruh), dan mana yang boleh dikerjakan (mubah).

Seseorang bisa beribadah kepada Allah hanya dengan tuntunan dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

  1. Taqwa harus didasari keikhlasan melakukannya karena Allah bukan karena tendensi yang lain. Ia jalankan ketaatan karena mengharap pahala Allah, dan ia tinggalkan kemaksiatan karena takut dari adzab Allah.

Iringilah Perbuatan Dosa dengan Kebaikan-Kebaikan Niscaya akan Menghapus Dosa Tersebut

Amal ibadah yang dikerjakan dengan ikhlas dan sesuai dengan Sunnah Rasul selain menambah pahala juga bisa menghapus dosa sebelumnya. Di antaranya adalah sholat, puasa, shodaqoh, umrah, amar ma’ruf nahi munkar, duduk di majelis ta’lim, dan semisalnya.

الصَّلَوَاتُ اْلخَمْسُ وَاْلجُمُعَةُ إِلَى اْلجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَ اْلكَبَائِر (رواه مسلم)

 “ (antara) sholat lima waktu (yang satu dengan berikutnya), Jumat dengan Jumat, Romadlon dengan Romadlon, sebagai penghapus dosa di antaranya jika dosa-dosa besar ditinggalkan “ (H.R Muslim)

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلَاةُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ

Fitnah yang dialami seorang laki-laki pada keluarga, harta, diri, dan tetangganya dihapuskan oleh puasa, sholat, shodaqoh, dan amar ma’ruf nahi munkar (H.R Muslim)

Namun, yang bisa dihapus dengan perbuatan-perbuatan baik (ibadah) itu adalah untuk dosa-dosa kecil saja, sedangkan dosa besar hanya bisa dihapus dengan taubat nashuha. Syarat taubat nashuha adalah bertaubat dengan ikhlas karena Allah semata, menyesal secara sungguh atas perbuatannya, meninggalkan perbuatan maksiat tersebut, bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi selama-lamanya, dan jika terkait dengan hak hamba Allah yang lain, ia harus meminta maaf (minta dihalalkan).

Apa perbedaan dosa besar dengan dosa kecil? Dosa besar adalah segala macam perbuatan atau ucapan yang dilarang dan dibenci Allah dan diancam dalam dalil-dalil alQuran atau hadits dengan adzab neraka, laknat Allah, kemurkaan Allah, tidak akan masuk surga, tidak termasuk orang beriman, Nabi berlepas diri dari pelakunya, atau dosa yang ditegakkan hukum had di dunia, seperti membunuh, berzina, mencuri, dan semisalnya. Sedangkan dosa kecil adalah sesuatu hal yang dibenci atau dilarang Allah dan Rasul-Nya namun tidak disertai dengan ancaman-ancaman seperti dalam dosa besar.

Namun, harus dipahami bahwa suatu dosa yang asalnya kecil bisa menjadi besar jika dilakukan terus menerus dan dianggap remeh.

Sahabat Nabi Anas bin Malik menyatakan:

لاَ صَغِيْرَةَ مَعَ اْلإِصْرَارِ

Tidak ada dosa kecil jika dilakukan secara terus menerus (riwayat ad-Dailamy dan al-Iraqy menyatakan bahwa sanadnya jayyid (baik))

Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ

Hati-hatilah kalian dari dosa yang diremehkan (dosa kecil) karena dosa itu bisa berkumpul pada seseorang hingga membinasakannya (H.R Ahmad, atThobarony, al-Baihaqy, dinyatakan oleh al-Iraqy bahwa sanadnya jayyid (baik),

Majelis Ilmu Menghapus Dosa dan Menggantikan Keburukan Menjadi Kebaikan

Duduk di majelis ta’lim yang di dalamnya dibahas ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits yang shohih dengan pemahaman Salafus Sholeh, bisa menyebabkan dosa terampuni. Bahkan keburukan-keburukan diganti dengan kebaikan.

مَا مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوا يَذْكُرُونَ اللَّهَ لاَ يُرِيدُونَ بِذَلِكَ إِلاَّ وَجْهَهُ ، إِلاَّ نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ قُومُوا مَغْفُورًا لَكُمْ قَدْ بُدِّلَتْ سَيِّئَاتُكُمْ حَسَنَاتٍ

Tidaklah suatu kaum berkumpul mengingat Allah,  tidak menginginkan kecuali Wajah-Nya, kecuali akan ada penyeru dari langit:”Bangkitlah dalam keadaan diampuni, keburukan-keburukan kalian telah diganti dengan kebaikan (H.R Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh  al-Albany)

Atha’ bin Abi Robaah –salah seorang tabi’i (murid Sahabat Nabi Ibnu Abbas,  Ibnu Umar, Abu Hurairah) berkata: Barangsiapa yang duduk di (satu) majelis dzikir, Allah akan hapuskan baginya 10 majelis batil (yang pernah diikutinya). Jika majelis dzikir itu dilakukan fii sabiilillah, bisa menghapus 700 majelis kebatilan (yang pernah diikutinya). Abu Hazzaan berkata : Aku bertanya kepada Atha’ bin Abi Robaah: Apa yang dimaksud dengan majelis dzikir? Atho’ menjelaskan: (majelis dzikir) adalah majelis (yang menjelaskan) halal dan haram, tentang bagaimana sholat, berpuasa, menikah, thalak, dan jual beli(Hilyatul Awliyaa’ karya Abu Nu’aim (3/313), al-Bidayah wanNihaayah karya Ibnu Katsir(9/336)).

Akhlak yang Baik

Para Ulama’ Salaf  mendefinisikan akhlaq yang baik, di antaranya :

Al-Hasan al-Bashri mengatakan : “ Akhlaq yang baik adalah dermawan, banyak memberi bantuan, dan bersikap ihtimaal (memaafkan).

AsySya’bi menjelaskan : “ Akhlaq yang baik adalah suka memberi pertolongan dan bermuka manis “

Ibnul Mubaarok mengatakan : “ Akhlaq yang baik adalah bermuka manis, suka memberi bantuan (ma’ruf) , dan menahan diri untuk tidak mengganggu/menyakiti orang lain “ (Jaami’ul ‘Uluum wal Hikaam karya Ibnu Rajab juz 1 hal 454-457)

Keutamaan akhlaq yang baik banyak disebutkan oleh Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam dalam hadits beliau :

أَكْمَلُ اْلمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“ Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya “ (H.R Ahmad, Abu Dawud, AtTirmidzi, al-Hakim dan dishahihkan oleh adz-Dzahaby).

إِنَّ اْلمُؤْمِنَ لَيُدْركُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَاتِ الصَّائِمِ وَاْلقَائِمِ

“ Sesungguhnya seorang mukmin dengan kebaikan akhlaqnya bisa mencapai derajat orang-orang yang (banyak) berpuasa dan (banyak) melakukan qiyamullail “ (H.R Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim, dishohihkan oleh adz-Dzahaby)

أَكْثَر مَا يُدْخِلُ اْلجَنَّةَ تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ اْلخُلُقِ

“(Hal) yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga adalah taqwa kepada Allah dan akhlaq yang baik “(H.R Ahmad, AtTirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al-Albany )

أَنَا زَعِيْمُ بَيْتٍ فِي أَعْلَى اْلجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ

“ Aku menjamin rumah di bagian surga yang tertinggi bagi orang yang baik akhlaqnya”(H.R Abu Dawud dan AtThobrooni dan dihasankan oleh Syaikh al-Albany)

http://www.salafy.or.id

Saat Cinta Bersemi di Hati

ketika cinta bersemi d hati

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah رحمه الله berkata, “Cinta adalah kepergian hati mencari yang dicinta, seraya lisannya terus-menerus menyebut yang dicinta. Adapun lisan senantiasa menyebut yang dicinta, tak ragu lagi karena dirinya tengah dirundung cinta yang teramat sangat, maka ia akan banyak menyebutnya” (Madariju As-Salikin, 3/15)

Cinta yang merasuk ke dalam diri akan mendorong seseorang berkiprah. Melangkah mencari yang dicinta. Berupaya untuk senantiasa memenuhi apa yang diinginkan oleh cintanya. Berusaha agar selalu menuai ridha dari kekasih.

Cinta mendorong seseorang untuk berbulat tekad mempersembahkan apa yang dimiliki. Apakah hendak dikata, kala cinta telah meluap di hati. Sikap dan perilaku pun akan terbingkai karenanya. Tanpa cinta, hidup terasa hambar. Tiada bermakna, bagai pohon yang tak pernah disirami air kehidupan. Cinta nan bertumpu kebenaran mengantarkan hidup seseorang pada jalan yang lurus.

Beribadah kepada Allah تعالى harus dilandasi cinta (mahabbah) pula. Tentu selain itu, dilandasi dengan sikap takut (khauf) dan mengharap (raja’). Tiga hal ini harus terkumpul dan tak boleh sirna salah satu di antaranya. Karena, barang siapa yang beribadah hanya dengan dilandasi sikap takut, maka ia beribadah di atas jalan kaum Khawarij. Mereka beribadah kepada Allah تعالى hanya dilandasi sikap khauf, mengambil nash-nash yang berisi ancaman, sedangkan nash-nash yang berisi janji, ampunan (maghfirah), dan rahmat ditinggalkan.

Adapun yang beribadah hanya dilandasi dengan sikap raja’, maka ia beribadah di atas jalan yang ditempuh oleh kaum Murji’ah. Mereka beribadah atas dasar mengharap tanpa ada landasan rasa takut dari berbuat dosa dan maksiat. Karena bagi kalangan Murji’ah, iman cukup hanya di hati. Amal perbuatan tidak terangkum dalam iman.

Adapun orang yang beribadah hanya dilandasi dengan sikap cinta (mahabbah) saja, ia beribadah di atas landasan kaum Sufi. Tidak ada hakikat ibadah melainkan didasari oleh tiga hal di atas. Satu di antaranya adalah cinta.

Perlu ditelisik bahwa cinta (mahabbah) ada empat macam. Pertama, mahabbah syirkiyah adalah cinta kepada berhala, patung, dan segala sesuatu yang disembah (diibadahi) selain Allah تعالى.

“Di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah تعالى. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah تعالى. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah تعالى. Jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah تعالى semuanya dan bahwa Allah تعالى amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)” (Al-Baqarah: 165)

Kedua, mahabbah muharramah adalah mencintai sesuatu yang Allah عزوجل memurkainya. Mencintai hal yang dicegah, dilarang, dan diharamkan, seperti mencintai orang musyrik dan kafir.

Ketiga, mahabbah thabi’iyah adalah cinta seseorang terhadap anak-anaknya, kedua orang tuanya, istrinya, dan teman-temannya.

Keempat, mahabbah wajibah adalah mencintai para wali Allah عزوجل, mencintai karena Allah عزوجل, dan berloyalitas karena Allah عزوجل. (Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah, Ba’dhu Fawaid Surah Al-Fatihah, hlm. 185-194)

Cinta nan tulus akan mengarahkan seorang hamba pada ibadah yang murni. Cinta nan tulus menjadi salah satu faktor yang mengantarkan seorang hamba meraih kelezatan manisnya iman.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

 

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Tiga hal yang apabila ada pada diri seorang hamba, niscaya dia akan merasakan manisnya iman: barang siapa yang menjadikan Allah عزوجل dan Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم lebih dicintai dari selain keduanya; seseorang yang mencintai saudaranya, tidaklah dia mencintai melainkan karena Allah عزوجل; seseorang yang tidak suka kembali kepada kekufuran setelah Allah عزوجل menyelamatkannya sebagaimana dia tidak suka jika dilemparkan ke dalam api neraka” (HR. Muslim no. 43 dari Anas bin Malik z)

Demikian pula, keimanan seorang hamba tidak akan bisa sempurna dan baik manakala tidak melebihkan takaran cintanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Cinta kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم harus lebih tinggi dibandingkan dengan cinta yang diberikan kepada keluarga, harta, dan segenap manusia. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidaklah seorang di antara kalian beriman hingga dia menjadikan aku lebih dia cintai dari keluarganya, hartanya, dan segenap manusia.” (HR. Muslim no. 44 dari Anas bin Malik رضي الله عنه)

Al-Qadhi bin ‘Iyadh رحمه الله mengatakan bahwa termasuk mencintai Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah menolong sunnahnya, membela syariat (yang dibawanya). Tidaklah sempurna iman seseorang melainkan dengan hal itu. Tidak sah pula cinta seseorang kecuali dengan meninggikan kedudukan Nabi صلى الله عليه وسلم atas orang tua dan anak. (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/205)

Dalam kerangka cinta itu pula, sahabat bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengenai amalan apa saja yang paling dicintai Allah عزوجل. Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنهما bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم:

أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا. قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ. قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Amalan apakah yang paling dicintai Allah عزوجل ?”, Rasullullah صلى الله عليه وسلم menjawab, “Shalat pada waktunya”, “Kemudian apa ?”, “Berbuat baik kepada kedua orang tua”, “Kemudian apa ?”,

Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Jihad di jalan Allah عزوجل” (HR. Al-Bukhari no. 5970)

Dorongan cinta telah melambungkan semangat beramal untuk sesuatu yang lebih baik, lebih dicintai, dan lebih utama. Saat cinta bersemi di hati, hasrat untuk meraup pahala sedemikian membumbung tinggi. Cinta telah membasuh hati dan menjadikannya jernih saat menatap hidup, karena cinta telah melumpuhkan gejolak syahwat nan membinasakan. Akhirnya, yang ada hanyalah menghaturkan segenap amal hanya bagi Allah عزوجل semata. Tiada bagi selain-Nya. Yang ada hanyalah bagi-Nya. Seraya amal itu dititi di atas ittiba’ terhadap Rasul-Nya صلى الله عليه وسلم.

Ibnu Katsir رحمه الله menuturkan perihal sifat orang yang memiliki kedudukan tertinggi dengan firman-Nya:

“Mereka memberikan makanan yang disukainya….” (Al-Insan: 8)

“….dan memberikan harta yang dicintainya….” (Al-Baqarah: 177)

Sungguh, mereka adalah orang-orang yang menyedekahkan sesuatu yang mereka cintai. Walaupun kadang mereka membutuhkannya, tetapi hal itu tidak dipentingkannya. Mereka lebih mengutamakan orang lain dibandingkan dengan diri mereka sendiri. Yang termasuk dalam kedudukan tertinggi ini adalah Abu Bakr Ash-Shiddiq رضي الله عنه. Beliau menyerahkan segenap harta yang dimilikinya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bertanya kepadanya, “Apakah yang telah engkau sisakan untuk keluargamu ?” Abu Bakr رضي الله عنه menjawab, “Aku tinggalkan Allah عزوجل dan Rasul-Nya untuk mereka” (HR. At-Tirmidzi no. 3675)

Begitu pula dengan air minum yang ditawarkan kepada ‘Ikrimah dan para sahabatnya رضي الله عنهم saat Perang Yarmuk. Masing-masing lebih mendahulukan teman lainnya padahal mereka dalam keadaan terluka. Mereka sangat memerlukan air, semuanya. Saat air minum tersebut diserahkan kepada salah satu dari mereka, lantas orang ini melihat temannya yang membutuhkan air. Air itu lalu diberikan kepada teman lainnya. Saat teman yang membawa air ingin meminumnya, dia melihat ada teman lainnya yang membutuhkan air pula hingga dia memberikan air tersebut kepada teman yang lainnya. Sampai akhirnya, air minum tersebut hendak disampaikan kepada yang lain, tetapi orang tersebut telah meninggal. Ketiga orang yang terluka tersebut seluruhnya meninggal dunia dan tidak ada seorang pun yang sempat meminum air tersebut.

Seseorang datang kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan berkata, “Wahai Rasulullah, berilah saya makanan” Beliau kemudian mengutusnya ke rumah istrinya, tetapi di rumah ternyata tidak ditemukan makanan. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “Adakah seseorang yang mau menjamu tamu pada malam ini ? Semoga Allah merahmatinya” Seseorang dari kalangan Anshar berdiri kemudian ia menjawab, “Saya, wahai Rasulullah”

Laki-laki itu pulang dan menemui istrinya dan berkata, “Ini adalah tamu Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Jangan remehkan dia.”

Istrinya menukas, “Demi Allah, aku tidak memiliki makanan selain yang tersisa untuk anak-anak”

Suaminya berkata, “Jika anak-anak menginginkan makan malam, tidurkanlah mereka. Kemarilah, padamkan lampu. Biarkan perut-perut kita tak terisi makanan pada malam ini”

Malam itu mereka tak menyantap makanan untuk makan malam.

Keesokan harinya, laki-laki itu menjumpai Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sungguh Allah عزوجل telah takjub —atau tertawa— terhadap fulan dan fulanah” Kemudian turunlah ayat:

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan ini). Barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9) (HR. Al-Bukhari no. 4889. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, VII/42-43)

Dalam riwayat Muslim, laki-laki Anshar yang dimaksud adalah Abu Thalhah رضي الله عنه.

Di zaman yang telah dipengaruhi pemahaman individualis ini, masih adakah bentuk perilaku di atas ? Perilaku para sahabat yang mulia yang senantiasa mendahulukan teman, meski mereka sendiri membutuhkannya, tidak berarti harus memelihara sikap kikir. Sungguh beruntung orang yang terjaga dari sikap kikir dan bakhil. Firman-Nya:

“Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran, mereka itu orang-orang yang beruntung” (Al-Hasyr: 9)

Cinta juga mendorong seseorang untuk menggerus sifat individualis dan menunjukkan sikap kebersamaan. Hadits Abu Hurairah رضي الله عنه menggambarkan hal ini.

أَنَّ رَجُلًا زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللهُ تَعَالَى عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ: أَيْنَ تُرِيدُ؟ قَالَ: أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ. قَالَ: هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا عَلَيْهِ؟ قَالَ: لاَ، غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللهِ تَعَالىَ. قَالَ: فَإِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتُهُ فِيْهِ

Ada seorang lelaki mengunjungi temannya di satu desa. Allah lalu memerintahkan malaikat mendatangi lelaki tersebut di tengah perjalanannya. Saat bertemu, malaikat itu bertanya kepada si lelaki, “Kemana engkau hendak pergi ?” Jawab lelaki itu, “Aku akan mengunjungi saudaraku di jalan Allah di desa ini” Malaikat bertanya lagi, “Apakah engkau merasa berutang budi atas kebaikannya ?” Lelaki itu menjawab, “Tidak. Aku berkunjung semata-mata lantaran mencintainya karena Allah” Malaikat pun berkata, “Sesungguhnya, aku adalah utusan Allah kepadamu bahwa Allah mencintaimu seperti halnya engkau mencintai saudaramu itu karena Allah” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, Islam mendorong setiap pemeluknya untuk senantiasa memerhatikan keadaan orang-orang yang kurang mampu. Tidak luput pula, setiap muslimah hendaknya membelanjakan harta yang dimilikinya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ مِنَ الْإِسْتِغْفَارِ، فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ. قَالَتِ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ: مَا لَنَا أَكْثَرُ أَهْلِ النَّارِ؟ قَالَ: تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ

“Wahai kaum wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar (memohon ampun kepada Allah عزوجل). Sungguh, aku telah melihat kebanyakan dari kalian adalah penghuni neraka. Lantas, ada seorang wanita bertanya, ‘Mengapa kami (kaum wanita) kebanyakan menghuni neraka ?’ Nabi صلى الله عليه وسلم menjawab, ‘Kalian banyak melaknat dan mengingkari (kebaikan) suami” (HR. Muslim no. 79)

Islam adalah agama yang menebar rahmat. Hak-hak individu tetap dijaga, tetapi tidak lantas menjadi individualis. Kepekaan terhadap fenomena sosial tetap ditumbuhkan pada diri seorang muslim. Kepedulian terhadap fakir, miskin, dan anak-anak yatim menjadi barometer kualitas keagamaan. Semakin tajam seseorang menghayati dan memahami Islam, semakin tajam pula tingkat kepedulian sosialnya. Hal ini karena ajaran agama Islam tidak hanya dalam tataran teori, lebih dari itu harus diamalkan dalam kehidupan nyata. Memberi sedekah, menyantuni anak yatim, dan memberi makan orang miskin merupakan amalan yang dijunjung tinggi dalam Islam. Firman Allah عزوجل:

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama ? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin” (Al-Ma’un: 1-3)

Firman-Nya:

“Adapun terhadap anak yatim, janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Sedangkan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah kamu menghardik” (Adh-Dhuha: 9-10)

Oleh karena itu, sangat tidak terpuji sekali apabila ada seseorang yang memupuk sikap ego yang tinggi. Hanya mementingkan diri sendiri tanpa mau peduli terhadap sesama. Memupuk egoisme akan merusak tatanan sosial, bisa menimbulkan kecemburuan sosial, dan kehidupan bermasyarakat. Akhirnya, kriminalitas yang membahayakan merajalela. Lantaran terjadi ketimpangan sosial, tidak mustahil terlahirlah dunia hitam: premanisme, pelacuran, dan kejahatan lainnya, wal ‘iyyadzubillah. Mendistribusikan sesuatu yang bernilai kepada sekelompok masyarakat yang tidak mampu merupakan langkah bijak memupus kesenjangan sosial. Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para sahabat yang mulia telah memberikan teladan perihal tersebut.

Sebuah hadits Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنهما disebutkan bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه mendapatkan sebidang tanah di Khaibar. Kemudian ‘Umar رضي الله عنه mendatangi Nabi صلى الله عليه وسلم. ‘Umar hendak meminta pendapat perihal tanah tersebut kepada Nabi صلى الله عليه وسلم. ‘Umar berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendapatkan bagian tanah di Khaibar. Tidaklah aku dapati harta yang lebih berharga darinya, menurutku. Saran apa yang engkau berikan terkait tanah ini ?”

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “Jika engkau mau, tetapkanlah tanah tersebut sebagai barang sedekah”

‘Umar رضي الله عنه lalu menyedekahkan tanah tersebut dengan status tanah itu tidak boleh diperjualbelikan, tidak boleh dihibahkan, dan tidak boleh diwariskan. ‘Umar bin Khaththab رضي الله عنه menyedekahkan tanah tersebut (yang hasilnya) diperuntukkan bagi orang-orang fakir, karib kerabat, para budak sahaya, orang yang berada di jalan Allah عزوجل, ibnu sabil, dan tamu. (HR. Al-Bukhari no. 2737)

Apa yang diperbuat ‘Umar bin Khaththab رضي الله عنه merupakan langkah nyata memupus egoisme dan sikap bakhil. Tindakan ‘Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه merupakan teladan dalam menumbuhkan kepedulian sosial. Para ulama menjadikan hadits ‘Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنهما di atas sebagai landasan wakaf. Barang yang disedekahkan ‘Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه adalah jenis barang yang bisa dimanfaatkan dalam kurun waktu yang lama. Ini tergambar dalam hadits Abu Hurairah رضي الله عنه, sesungguhnya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah yang terus mengalir (pahalanya), ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya”

(HR. Muslim no. 4199)

Karena itu, yang menjadi salah satu syarat sah wakaf, barang yang diwakafkan tergolong yang bisa dimanfaatkan secara terus-menerus dan tahan lama (baqa’). Wakaf menjadi tidak sah manakala barang yang diwakafkan tersebut musnah/habis setelah diambil manfaatnya seperti makanan. (Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Mulakhkhas Al-Fiqhi, hlm. 165)

Memberikan sesuatu yang berharga yang menjadi milik sendiri adalah termasuk prinsip kebaikan. Allah عزوجل berfirman:

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan. Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (Al-Baqarah: 177)

Agar apa yang disedekahkan benar-benar menjadi kebaikan yang bernilai guna, syariat membimbing seseorang untuk tidak mengungkit-ungkit sedekah yang telah diberikan. Hal ini bisa melenyapkan pahala sedekahnya. Apalagi diiringi dengan menyakiti perasaan penerima. Sungguh, hal seperti ini merupakan tindakan yang tidak terpuji. Allah عزوجل telah memperingatkan melalui firman-Nya:

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (Al-Baqarah: 264)

Dari Abi Dzar رضي الله عنه, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ : الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

“Tiga macam orang yang Allah عزوجل tidak akan berbicara dengannya pada hari kiamat, tak akan melihat mereka dan membersihkannya. Mereka mendapatkan siksa yang pedih. Yaitu, orang yang mengungkit-ungkit apa yang telah diberikan, orang yang memanjangkan kainnya hingga melebihi mata kaki, dan orang yang menuntut tambahan harga (dari) barang dagangannya dengan mengucapkan sumpah dusta” (HR. Muslim no. 171)

Sedekah yang diiringi dengan mengungkit-ungkit apa yang telah diberikan akan sangat mengerikan. Sedekah yang telah dilakukan menjadi batal, pahala yang hendak dituai pun menjadi sirna. Bahkan, di akhirat kelak Allah عزوجل tidak akan berbicara dengannya, melihat, dan membersihkannya. Allah عزوجل akan menghukumnya dengan siksa yang pedih. Wal ‘iyadzu billah.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin رحمه الله menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘Allah عزوجل tidak akan berbicara pada mereka’ adalah berbicara dalam rangka keridhaan. Karena Allah عزوجل pun berbicara dengan para penghuni neraka —dan mereka sudah berada di neraka— sebagaimana firman Allah عزوجل:

Allah berfirman, “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan-Ku” (Al-Mu’minun: 108)

Ini ditujukan pada mereka (penduduk neraka), akan tetapi bukan dalam kerangka jalan yang diridhai. Adapun ‘Allah tidak akan melihat mereka’, maksudnya tidak melihat kepada mereka dengan pandangan khusus, yaitu pandangan penuh rahmat. Adapun memandang secara umum, maka sesungguhnya Allah Maha Melihat terhadap segala sesuatu. Sedangkan ‘Allah tidak membersihkan mereka’, maksudnya tidak membersihkannya dan memuji mereka dalam kebaikan. Bahkan, Allah عزوجل berbuat yang sebaliknya pada mereka. Nas’alullaha al-‘afiyah. (At-Ta’liq ‘ala Shahih Muslim, 1/349-350)

Karenanya, ikhlaskanlah segala sesuatu yang telah diserahkan di jalan Allah عزوجل. Dengan itu, diharapkan Allah عزوجل membalas segenap kebaikan yang telah diamalkan. Tanpa harus mengungkit-ungkit dan menyakiti orang yang menerima pemberian sedekah tersebut.

Wallahu a’lam.

Sumber: http://asysyariah.com/saat-cinta-bersemi-di-hati.html

Apakah Menjelaskan Kesalahan Da’i termasuk Fitnah

alhaq2

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan ditanya ,

Tanya : Bagaimana manhaj Ahlus sunnah dalam mengkritik seseorang kemudian menyebutkan nama mereka, apakah menjelaskan kepada umat tentang kesalahan-kesalahan beberapa da’i termasuk “fitnah” yang harus dihindari ?

Maka, Asy-Syaikh menjawab :
Kesalahan adalah sesuatu yang harus dijelaskan dan dipisahkan dari kebenaran, adapun tentang individu tertentu maka tidak ada manfaatnya mencela mereka, bahkan bisa jadi akan menimbulkan mudhorot. Kita tidak mengkritik orang-orangnya, namun kita hanya ingin menjelaskan kesalahan dan menerangkan kebenaran kepada umat agar mereka mengambil yang benar dan meninggalkan yang salah. jadi bukan untuk mencela kepribadian seseorang atau balas dendam terhadapnya, bukan ini tujuannya. Seseorang yang melakukannya dengan tujuan untuk balas dendam adalah pengekor hawa nafsu. Adapun orang-orang yang meniatkannya untuk menjelaskan kebenaran kepada masyarakat maka dia adalah penasehat bagi kaum muslimin.

Apabila keadaan menuntut untuk DISEBUTKAN NAMA orang-orang yang dibantah tersebut supaya masyarakat mengetahuinya maka yang seperti ini adalah KARENA KEMASLAHATAN YANG NYATA.

Para ahli hadits menyebutkan nama- nama rawi yang dicela, mereka mengatakan : “SI FULAN, SI FULAN dan SI FULAN adalah PARA PENDUSTA, Fulan lainnya buruk hafalannya, Si Anu seorang mudallis, mereka menjelaskan dengan mengatakan Fulan (menyebutkan namanya). Mereka TIDAK bertujuan untuk mencela seseorang namun hanya bermaksud untuk menjelaskan KEBENARAN supaya diketahui bahwa ORANG INI DALAM PERIWAYATAN HADITSNYA DICELA sehingga manusia menjauhinya dan berhati-hati terhadapnya. Intinya adalah tergantung pada maksud dan tujuan, jika tujuannya adalah untuk mencela seseorang maka ini adalah hawa nafsu sehingga tidak boleh dilakukan.
Apabila tujuannya adalah untuk MENJELASKAN KEBENARAN dan NASEHAT kepada masyarakat maka hal itu tidak mengapa. Alhamdulillah.

Ibnu Mubarak mengatakan : ” Al Mu’alla bin Hilal adalah tokoh, hanya saja jika datang sebuah hadits dia akan berdusta”. Lalu seorang sufi mengatakan kepadanya ” wahai Abu Abdurrahman (ibnu mubarak) kenapa engkau melakukan ghibah?” maka beliau -ibnu mubarak- berkata : “Diam kamu, APABILA TIDAK KITA JELASKAN MAKA BAGAIMANA AKAN MEMBEDAKAN ANTARA KEBENARAN dan KEBATHILAN.” (Al-Kifayah : 9)

=================
Dikutip dari Buku : terjemah kitab Al Ajwibah Al Mufidah ‘an As’ilatil Manahij Al Jadidah, Oleh Asyaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan, judul edisi Indonesia : Jawab Tuntas Masalah Manhaj, Penyusun : Jamal Bin Furaihan Al Haritsi. Penerbit asli : Darul Minhaj. Penerjemah : Abu Hudzaifah Yahya, abu Luqman. Penerbit Indonesia : Pustaka AlHaura, jogjakarta. Hal. 150-151

Sumber : http://www.darussalaf.or.id

Agama Adalah Nasihat

salafknowledge.jpg

Dalam Shohih Bukhori dan Muslim dari sahabat Abu Ruqoyah Tamim bin Aus Ad Daary, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Agama itu nasehat.”
Kami bertanya, “Untuk siapa wahai Rosulullah?”
Beliau menjawab,
“Bagi Allah, kitabNya, dan rosulNya, dan bagi para pemimpin Islam, dan bagi muslimin umumnya.”

Hadits ini mempunyai kedudukan yang agung dimana memberikan nash bahwa tiang agama dan pondasinya adalah nasehat. Dengan keberadaannya maka agama pun akan tetap tegak di tengah-tengah kaum muslimin, sebaliknya dengan lenyapnya nasehat maka akan terjadilah kepincangan di tengah-tengah mereka dalam seluruh aspek kehidupannya.
~ ummu abizzar ~

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.