Apakah Menjelaskan Kesalahan Da’i termasuk Fitnah

alhaq2

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan ditanya ,

Tanya : Bagaimana manhaj Ahlus sunnah dalam mengkritik seseorang kemudian menyebutkan nama mereka, apakah menjelaskan kepada umat tentang kesalahan-kesalahan beberapa da’i termasuk “fitnah” yang harus dihindari ?

Maka, Asy-Syaikh menjawab :
Kesalahan adalah sesuatu yang harus dijelaskan dan dipisahkan dari kebenaran, adapun tentang individu tertentu maka tidak ada manfaatnya mencela mereka, bahkan bisa jadi akan menimbulkan mudhorot. Kita tidak mengkritik orang-orangnya, namun kita hanya ingin menjelaskan kesalahan dan menerangkan kebenaran kepada umat agar mereka mengambil yang benar dan meninggalkan yang salah. jadi bukan untuk mencela kepribadian seseorang atau balas dendam terhadapnya, bukan ini tujuannya. Seseorang yang melakukannya dengan tujuan untuk balas dendam adalah pengekor hawa nafsu. Adapun orang-orang yang meniatkannya untuk menjelaskan kebenaran kepada masyarakat maka dia adalah penasehat bagi kaum muslimin.

Apabila keadaan menuntut untuk DISEBUTKAN NAMA orang-orang yang dibantah tersebut supaya masyarakat mengetahuinya maka yang seperti ini adalah KARENA KEMASLAHATAN YANG NYATA.

Para ahli hadits menyebutkan nama- nama rawi yang dicela, mereka mengatakan : “SI FULAN, SI FULAN dan SI FULAN adalah PARA PENDUSTA, Fulan lainnya buruk hafalannya, Si Anu seorang mudallis, mereka menjelaskan dengan mengatakan Fulan (menyebutkan namanya). Mereka TIDAK bertujuan untuk mencela seseorang namun hanya bermaksud untuk menjelaskan KEBENARAN supaya diketahui bahwa ORANG INI DALAM PERIWAYATAN HADITSNYA DICELA sehingga manusia menjauhinya dan berhati-hati terhadapnya. Intinya adalah tergantung pada maksud dan tujuan, jika tujuannya adalah untuk mencela seseorang maka ini adalah hawa nafsu sehingga tidak boleh dilakukan.
Apabila tujuannya adalah untuk MENJELASKAN KEBENARAN dan NASEHAT kepada masyarakat maka hal itu tidak mengapa. Alhamdulillah.

Ibnu Mubarak mengatakan : ” Al Mu’alla bin Hilal adalah tokoh, hanya saja jika datang sebuah hadits dia akan berdusta”. Lalu seorang sufi mengatakan kepadanya ” wahai Abu Abdurrahman (ibnu mubarak) kenapa engkau melakukan ghibah?” maka beliau -ibnu mubarak- berkata : “Diam kamu, APABILA TIDAK KITA JELASKAN MAKA BAGAIMANA AKAN MEMBEDAKAN ANTARA KEBENARAN dan KEBATHILAN.” (Al-Kifayah : 9)

=================
Dikutip dari Buku : terjemah kitab Al Ajwibah Al Mufidah ‘an As’ilatil Manahij Al Jadidah, Oleh Asyaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan, judul edisi Indonesia : Jawab Tuntas Masalah Manhaj, Penyusun : Jamal Bin Furaihan Al Haritsi. Penerbit asli : Darul Minhaj. Penerjemah : Abu Hudzaifah Yahya, abu Luqman. Penerbit Indonesia : Pustaka AlHaura, jogjakarta. Hal. 150-151

Sumber : http://www.darussalaf.or.id

Iklan